• Film Indonesia Memiliki Potensi Besar di India
    Beneaththedarknessmovie

    Film Indonesia Memiliki Potensi Besar di India

    Film Indonesia Memiliki Potensi Besar di India – Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk India, Sidharto Suryodipuro, memperkenalkan daya tarik film Indonesia kepada penonton India.

    “Film adalah bentuk seni yang melibatkan seniman, aktor, sutradara, dan objek yang difilmkan. Ini tentang kita, karenanya menjadikannya jendela.”

    Film Indonesia Memiliki Potensi Besar di India

    “[Melalui film], penonton bisa melihat perbedaan dan persamaannya. Ini akan menjadi daya tarik bagi penonton India,” katanya saat malam pembukaan Delhi International Film Festival (DIFF) di KBRI New Delhi, seperti dilansir kantor berita Antara.

    Menurut Sidharto, film Indonesia sangat potensial untuk diputar di India, mengingat hubungan kedua negara sudah terjalin lama bahkan sebelum Indonesia merdeka.

    “Hubungan kami sudah ada sejak dua ribu tahun yang lalu, bahkan mungkin sejak era Mahabharata. Itulah akar hubungan India-Indonesia,” kata Sidharto.

    Sidharto berharap kesamaan kedua negara ini dapat membawa lebih banyak lagi kolaborasi di bidang perfilman dan budaya, karena banyak dimensi di Indonesia yang harus diperkenalkan kepada dunia, dan film merupakan salah satu media paling populer yang dapat dimanfaatkan.

    Sidharto mencontohkan, film-film Indonesia seperti film komedi “Susah Sinyal” karya Ernest Prakasa menjadi jendela yang bagus bagi orang asing yang ingin berkunjung ke pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur.

    Film yang berhubungan dengan Indonesia juga bisa menjadi sarana promosi di dunia internasional.

    Indonesia serahkan lima film ke Festival Film Asia-Pasifik

    Asia-Pacific Film Festival (APFF), acara tahunan yang diselenggarakan oleh Federation of Motion Picture Producers di Asia-Pasifik, dijadwalkan kembali untuk ke-58 kalinya di Taipei.

    Menurut pernyataan yang dikirim ke The Jakarta Post, festival tersebut akan berlangsung di Grand Mayfull Hotel di Taipei mulai 1 September.

    Lima film Indonesia telah masuk ke festival tersebut. Mereka adalah Kartini (produksi Legacy Pictures), Marlina: Pembunuh dalam Empat Babak (Marlina the Murderer in Four Acts, Cinesurya Pictures), Surat Kecil untuk Tuhan (A Note to God, Falcon Pictures), Banda: The Dark Forgotten Trail (Lifelike Pictures) dan Adit Sopo Jarwo (MD Animation). Kelima film tersebut dipilih karena dianggap mewakili kualitas film Indonesia di era ini.

    “Mereka telah dikurasi dengan baik dan merepresentasikan film Indonesia dengan baik,” kata H. Firman Bintang, Ketua Umum Persatuan Produser Film Indonesia (PPFI), Senin.

    Asosiasi dengan senang hati berpartisipasi dalam APFF dan menghadiri acara tersebut bersama Pusat Pengembangan Film Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Pusbang Film Kemendikbud).

    Formosa English News melaporkan bahwa aktris Taiwan Janine Chun-Ning Chang akan menjadi duta dari festival tersebut.

    Portofolio aktris ini mencakup 82 judul film, serial televisi, video musik, single, drama teater, dan pertunjukan.

    Dia juga memenangkan Penghargaan Kuda Emas sebagai Aktris Pendukung Terbaik dan penghargaan Festival Film Taipei sebagai Aktris Terbaik.

    Dua film Indonesia diputar di festival film Shanghai

    Dua film Indonesia, The Seen and Unseen dan Marlina: The Murderer in Four Acts, termasuk di antara film-film yang ditampilkan di Shanghai International Film Festival (SIFF) 2018.

    Diadakan dari 16 hingga 24 Juni, SIFF adalah salah satu festival film terbesar di Asia Timur.

    Selama festival, The Seen and Unseen diputar di empat bioskop berbeda di Shanghai. Sementara itu, Marlina: The Murderer diputar di dua bioskop berbeda.

    Wakil Ketua Badan Perfilman Indonesia Dewi Umaya mengatakan film-film tersebut menarik sekitar 500 penonton.

    Film Indonesia Memiliki Potensi Besar di India

    Seperti dikutip Antara, Dewi mengatakan angka tersebut bagus karena bukan hal yang mudah untuk memutar film asing di China, terutama di festival film bergengsi seperti SIFF.

    Sebelum dipilih untuk festival, film-film tersebut harus melalui proses seleksi yang ketat, terjemahan dan harus memenuhi peraturan negara.

    Ia mengungkapkan harapannya agar SIFF selanjutnya bisa menampilkan lebih banyak film Indonesia dan film-film ini juga bisa masuk ke industri film China.…