Film Menyoroti Tan Malaka, Pahlawan Kiri Yang Terlupakan
Beneaththedarknessmovie

Film Menyoroti Tan Malaka, Pahlawan Kiri Yang Terlupakan

Film Menyoroti Tan Malaka, Pahlawan Kiri Yang Terlupakan – Di negara yang melarang komunisme, seperti Indonesia, memiliki tokoh komunis yang juga pahlawan nasional bisa jadi sangat rumit.

Tan Malaka, seorang komunis dan pahlawan nasional Indonesia, masih dipandang sebagai sosok yang kontroversial, dan namanya hampir tidak disebutkan dalam sejarah Indonesia karena hubungannya dengan ideologi terlarang.

Film Menyoroti Tan Malaka, Pahlawan Kiri Yang Terlupakan

Kini, perjalanan hidup pemberontak dan pemikir kiri paling terkenal di Indonesia ini mencoba menjangkau generasi muda melalui film layar lebar.

Film yang disutradarai oleh Daniel Rudi Haryanto ini akan menjadi film full-length pertama tentang kehidupan Tan Malaka.

Versi pendek film berjudul Maha Guru Tan Malaka itu tayang perdana di Malang, Jawa Timur, pada 29 Maret malam.

“Saya ingin melengkapi sejarah Tan Malaka melalui film,” kata Daniel saat membuka diskusi usai pemutaran filmnya di kafe Gazebo Literasi, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Menurut Rudi, film tersebut nantinya akan ditayangkan di layar lebar dengan berbagai penyempurnaan, seperti animasi dan ekstra footage serta berdurasi 73 menit, sebagai hadiah HUT Kemerdekaan RI ke-73 pada Agustus mendatang.

“Judulnya Musim Pertama, karena bercerita tentang seorang pengunjung dari negara tropis yang melewati empat musim di negara lain,” kata Rudi.

Ditembak di lokasi di Haarlem dan Leiden di Belanda dan Paris, Maha Guru Tan Malaka menggambarkan petualangan karakter bernama Marco (Rolando Oktavio) mencari Tan Malaka.

Marco adalah pemuda Indonesia yang belajar di Prancis. Dia mengunjungi beberapa tempat yang pernah dikunjungi Tan Malaka, saat belajar di sekolah pelatihan guru di Haarlem.

Tempat tinggal, ruang kelas, dan toko buku favorit Tan Malaka disurvei, didampingi oleh Prof. Harry A. Poeze, seorang sejarawan Belanda yang telah meneliti pemikiran dan kehidupan Tan Malaka selama lebih dari 40 tahun.

“Saya memilih periode 1913 hingga 1919 karena berdasarkan kajian Poeze, saat itu merupakan masa terpenting keterlibatan Tan Malaka dalam jaringan global pergerakan internasional,” tandas Rudi.

Dalam satu adegan, Poeze mengajak Marco ke toko buku tua di Haarlem untuk melihat buku Wilhelm Blos berjudul De Fransche Revolutie (Revolusi Prancis), yang meradikalisasi Tan Malaka muda.

Rudi yang merupakan lulusan Jurusan Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta ini memang dikenal dengan karya-karyanya yang bertema serius, seperti Prison and Paradise yang fenomenal, sebuah film dokumenter bom Bali yang digambarkan banyak kalangan membuka wacana baru tentang terorisme.

Namun kali ini ia menerapkan cara berbeda dalam memahami Tan Malaka. Rudi telah menciptakan film berdurasi 32 menit dengan sentuhan kontemporer.

Tampilan visualnya dihadirkan secara ringan dalam dua lapisan, melalui vlog dan rekonstruksi acara dengan animasi hatching, yang ditangani oleh Sumarsono, animator Indonesia yang juga pernah bekerja untuk Pixar dan Dreamworks.

“Animasi penetasan digunakan agar film ini meninggalkan kesan, meski pengerjaannya sederhana,” kata Rudi.

Narasi film melalui Marco juga mengikuti gaya anak muda masa kini sehingga pesan-pesannya tentang Tan Malaka yang misterius dan mistis dapat lebih dekat dengan anak muda Indonesia, khususnya pelajar di sekolah dan universitas.

Rudi berpendapat bahwa Tan Malaka harus ditampilkan secara objektif, meskipun pada kenyataannya ia telah memainkan peran utama dalam gerakan komunis internasional tahun 1920-an.

“Berbicara tentang sejarah, kita tidak boleh terjebak dalam isu-isu stigma yang dihasilkan dari status quo sebelumnya, karena ini akan menjadi hambatan dalam menghadapi persaingan dalam skala global,” kata Rudi.

Oleh karena itu, dia mengapresiasi dukungan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy terhadap film ini melalui Ditjen Sejarah dan Ditjen Kebudayaan Kemendikbud.

Film Menyoroti Tan Malaka, Pahlawan Kiri Yang Terlupakan

Bantuan pemerintah berupa dana senilai Rp 175 juta (US $ 12.709) untuk pembuatan film selama dua minggu di Belanda dan Prancis.

Bagi Rudi, keterbatasan dana yang ada tidak menyurutkan semangatnya untuk menghasilkan gambar yang berkualitas.

“Film ini diharapkan dapat menjadi catatan sejarah alternatif dan catatan penting bagi generasi sekarang,” ujarnya.